Kuraih tas sekolahku dan keluar rumah, tak lupa kumasukkan amplop coklat itu ke dalam tas. Kususuri jalanan yang sangat kukenal. Pagi itu mendung. Memang aku berangkat dengan mobil, tapi bukan berarti aku anak orang kaya. Tetapi teman-temanku salah mengartikan diriku. Mereka menganggap aku berasal dari keluarga yang sangat kaya dan bisa membeli yang diinginkan. Tidak. Aku bukan anak orang kaya, tetapi mereka tetap tidak percaya. Yaahh....apalagi yang bisa aku lakukan kalau sudah kujelaskan pun mereka tetap tidak percaya. Pernah aku kehabisan uang karena aku kebanyakan membeli keperluan dan tanpa sengaja aku nyeletuk, "aduuhh...duitku tinggal sedikit..."
Teman-temanku malah bilang, "iyaa...tinggal 100 ribu lagi..." Aku hanya tersenyum saja, karena aku membantah pun mereka tidak akan percaya.
Keluargaku biasa-biasa saja. Dari luar kelihatan harmonis sekali. Ke mana-mana sekeluarga pergi. Tapi aku malah tidak suka suasana seperti yang umumnya diinginkan orang banyak. Aku senang menyendiri, merenung, melamun, dan senang kesunyian. Dan ini tidak main-main. Orang-orang ingin makan bersama keluarganya, berkumpul bersama, dan kegiatan yang bagiku konyol lainnya yang mengutamakan keramaian. Tidak. Aku benci suasana seperti itu. Aku benci keramaian.
Tapi aku harus menyesuaikan diri, harus memaksa diriku untuk mengubur semua kesenangan yang kudapatkan dalam kesendirian itu. Keluargaku telilit utang, aku dan adikku terancam tidak sekolah. Singkatnya, kami ditipu oleh rekan kerja ayahku dan rekannya itu melarikan uang dengan jumlah yang tidak sedikit, setelah itu keluarga kami berubah. Walaupun orangtuaku tetap mengusahakan kami hidup dalam keluarga yang harmonis.
Aku menyadari itu, tapi aku tetap tidak bisa berpura-pura senang dalam keharmonisan itu. Aku malah menginginkan seperti anak-anak seusiaku yang bebas dari orangtua karena mereka sibuk bekerja dan terus mendapatkan setoran uang dalam jumlah yang banyak. Aku malah senang, aku sendiri, bisa menikmati kebahagiaanku, dan selalu mempunyai uang. Bukan untuk membeli narkoba atau hal-hal lain yang menyesatkan. Bukan. Aku ingin seperti teman-temanku juga yang bisa membeli semua yang mereka inginkan.
Mendengar masalah yang selama bertahun-tahun disembunyikan orangtuaku itu, aku meneguhkan hatiku sendiri, aku harus menerima ini, walau sebenarnya hatiku menolak. Dan bertahun-tahun pula aku menahan tangisan dalam hati. Karena itulah aku suka sendirian. Aku suka ketenangan yang diciptakannya. Aku bisa menangis tanpa ada yang tahu, aku bisa melakukan semua yang kuinginkan.
Mobil silverku sudah sampai di pekarangan sekolah. Aku memarkirkan mobil. Sebelum turun, aku menenangkan diriku dahulu. Kubuka tas sekolahku dan kupandangi amplop coklat itu. Taku ketahuan dengan teman-teman sekelas, aku meninggalkan amplop itu di dashboard mobil. Lalu aku keluar dan berjalan menuju kelas.
Pukul 07.15 kelasku sudah lumayan ramai. Teman-teman menyambutku begitu mereka melihatku. Mereka menceritakan berbagai macam hal. Aku diam saja, sesekali aku tersenyum menanggapi pembicaraan mereka.
Selama pelajaran berlangsung, pikiranku tidak tenang. Aku terus memikirkan amplop itu dan ingin segera mengirimkannya. Aku ingin tahu hasilnya seccepat mungkin dan mendapatkan sejumlah uang. Ternyata teman-temanku memperhatikanku dan menyadari ada yang aneh denganku. Mereka membombardirku dengan rentetan pertanyaan yang tidak bisa ku jawab. Aku tersenyum paksa pada mereka dengan maksud kalau aku tidak ingin membicarakan apapun. Tetapi mereka tidak mau mengerti, mereka terus menanyaiku.
"kalau gitu, gue nebeng sama lo ya." Aku terkejut. Aku tidak bisa membiarkan mereka ikut mobilku. Bukan pelit atau bagaimana, hari ini aku ingin langsung ke kantor pos dan mengirimkannya dan aku tidak ingin mereka tahu apa yang kulakukan. Tidak ada alasan khusus, aku hanya ingin tidak ada yang tahu. Dengan sangat berat hati dan terpaksa aku menolak mereka ikut denganku, dan langsung melarikan mobilku dengan kecepatan tinggi.
Mereka perhatian denganku dan aku terharu dengan perhatiannya, tapi.... Entahlah... Air mata yang bertahun-tahun kusimpan. Air mata yang selama ini kusimpan dan kupendam dalam hati, menyesak dada dan ingin dikeluarkan. Saat setetes air mata bergulir di pipiku, aku langsung mengusapnya dan mengejapkan mataku. "aku tidak boleh menangis" gumamku. Aku anak sulung yang dididik untuk tetap tegar dalam hal apapun. Aku tidak boleh mengangis dalam hal sepele seperti ini. Aku harus tetap tegar. Dan memang hanya itulah yang dapat aku lakukan saat ini.
belum sampai kantor pos, aku menghentikan mobilku. Lalu aku termenung sendirian. Menyesali diriku ini. Ku ambil amplop coklat yang tadi ku letakkan di dashboard, ku pandangi dan ku balik-balik amplop itu. Semoga saja berhasil... Batinku.
* * *
Dua minggu berlalu. Tidak ada kabar dari pihak majalah, dan aku juga tidak melihat karyaku dimuat dalam majalah. Mungkin bukan rizkiku... Batinku. Aku menghempaskan tubuhku ditempat tidur. Kupandangi langit-langit bergambar antariksa yang kulukis sendiri. Hatiku tenang saat melihatnya... Tok.. Tok.. Tok.. "masuk" seorang gadis kecil membuka pintu dan menghampiriku. "ada telefon" ucap gadis kecil itu dengan suara cadelnya sambil menyodorkan telefon. Dengan malas aku meraih telefon itu. "halo" "selamat siang, apakah saya sedang berbicara dengan cecil armasiska?" tanya suara disebrang sana. Suaranya lembut dan ramah. "iya saya sendiri" "begini.... Karya anda akan dimuat dalam majalah kami minggu depan. Jadi, kami akan mentransfer sejumlah uang ke rekening anda minggu depan juga." "oh ya? Boleh saya tahu jumlahnya?" "lima ratus ribu rupiah" aku kegirangan. Limaratus ribu cukup untuk membayar uang sekolahku dan adikku. Dalam hati aku bersyukur kepada Tuhan.
"saya tunggu transfer uangnya. Terimakasih." aku memutuskan percakapan. Aku senang sekali.
Seminggu kemudian, aku membeli majalah itu lagi. Dan benar. Naskah ceritaku dimuat. Aku melonjak kegirangan. Berarti sebentar lagi uangnya akan ditransfer. Dan aku bisa melunasi semua tagihan uang sekolah dan adikku yang selama ini aku sembunyikan dari adikku. Aku memacu mobilku kerumah. Kuparkirkan mobil didepan rumah, mengunci mobil, dan berlari ke kamar. Kulemparkan tasku begitu saja, kucari buku tabunganku, lalu berlari lagi menuju mobil. Adikku yang masih kecil itu memandangiku dengan pandangan heran. Mungkin sudah dua tahun lamanya dia tidak melihat aku senang sekali seperti ini. Aku sempat mengusap kepalanya lembut, sebelum kemudian berlari lagi kemobil. Aku tidak sabar mendapatkan transfer uang itu. dalam perjalanan, aku membayangkan uang itu bisa membantuku dan keluargaku. Tak lama aku sudah sampai dibank. Buru-buru aku menghampiri mbak yang bekerja dibalik meja.
"bisa saya bantu?" tanyanya lembut. "saya mau mengecek tabungan saya, apakah ada transfer?" ucapku cepat. Mbak itu tersenyum dan mengambil buku tabungan yang kuletakkan dimeja. Aku menunggu dengan berdebar-debar. Aku harus menerima uang itu secepatnya.
"ya, ada transfer senilai lima ratus ribu rupiah. Mau diambil atau dimasukkan dalam rekening?"
"ambil." mbak itu menyerahkan uang kepadaku. Aku langsung menyambar uang dan buku tabunganku, lalu cepat -cepat masuk mobil. Aku bersyukur lagi kepada Tuhan atas segala karunianya. Aku bahagia sekali. Setidaknya aku bisa membantu dan meringankan beban orang tuaku.
* * *
Dirumah adikku masih terheran-heran melihat tingkahku yang tidak biasanya. Aku menghampirinya dengan senyum bahagia. Aku berlutut didepannya dan menyembunyikan uang itu dibalik punggungku.
"coba tebak, kakak bawa apa...."
"kakak bawa cokelat yaa.."jawabnya. Aku menggeleng dia berfikir lagi, wajahnya berubah ,serius. lama aku menunggu jawabannya, hingga akhirnya aku berbicara "engga tahu.."
aku tetap tersunyum, lalu menunjukkan uang itu didepannya. matanya membelalak kaget dan mulutnya ternganga. tangan kecilnya meraih tanganku. dipandanginya aku dn uang itu bergantian. "kakak dapat dari mana?" tanyanya dengan logat cadelnya.
aku hanya tersenyum "besok kakak ke sekolah kamu yaa." ucapku. kuelus kepalanya lembut, dan kucium kedua pipinya. aku melangkah menuju kamarku. tapi rasa sakit itu menyerang lagi. dadaku perih. aku terbatuk dan keluar darah dari mulutku. tidak. jantungku sudah tidak sanggup lagi. penyakit yang kutahan sendiri agar tidak menyusahkan orangtua kembali menyerangku. kumasukkan uang itu kedalam saku, lalu aku tertunduk. darah semakin banyak keluar dari mulutku.
adikku mendekatiku. "kakak kenapa?" aku diam saja dan berusaha tersenyum padanya. kurogoh sakuku dan kuserahkan uang itu padanya.
"nanti.. kasih... sama papah... mamah.." ucapku terbata-bata. dipegangnya uang itu erat-erat.
tidak. aku harus pergi sekarang. pikirku. nafasku semakin pendek. darah segar keluar dari mulutku. adik kecilku.. maaf... kakak ga bisa bantu kamu lagi... batinku... "maaf..." hanya itu yang keluar dari mulutku. adikku tidak mengerti. dia berlari menuju telefon dn entah berbicara pada siapa. waktuku semakin singkat. kurasakan tubuhku dingin dan nyeri. lalu aku ambruk kelantai dengan bersimbah darah.
samar-samar kudengar langkah kaki, mungkin papah, dan teriakan mamah. tapi tubuhku tetap tidak bisa bergerak. padahal aku ingin sekali meminta maaf pada orangtuaku atas segala kesalahanku. tubuhku semakin dingin, semakin nyeri, hingga ragaku akhirnya tidak berjiwa lagi.
adikku berjalan kesebuah makam sambil membawa karangan bunga. dia sudah besar sekarang. umurnya sudah 16 tahun. lalu ia berjongkok dan mulai menangis. aku tak tega melihatnya. ia mengangisi kakaknya ini. kakak yang tidak bisa menemaninya sampai dewasa. tapi... setidaknya aku sudah berusaha melakukan yang terbaik.
kerenn bangettt :)
ReplyDeletemantap . ahahhahahhahaha :D
ReplyDeleteartikel yang bagus neng...teruslah berkarya dan berbagi..
ReplyDeletemakasih semuanya :)
ReplyDeleterame euy,,
ReplyDeletesedih imel ih ;)
ReplyDeleteiya lin :)
Delete