Tuesday, June 12, 2012

Cinta Atau Cita-Cita?

Hanya saja aku makhluk lemah yang tidak tahu harus bagaimana mengatur perasaan yang ada. Kadang aku bisa benar-benar merasakan kesenangan itu apa, tapi terkadang juga aku bisa rasakan bagaimana kesedihan dan kesakitan yang bisa menghampiri kapan saja. Dari situ aku belajar, dengan berpikir mungkin semuanya lebih enteng dibandingkan harus dicerna oleh perasaan.
Cinta? Apa cinta? Setiap orang bisa memiliki perasaan ini, tapi tidak semua orang bisa mengerti bagaimana cara mereka membagi porsi didalamnya. Cinta itu terbagi atas 3 hal yakni hati, insting dan akal.

Bagaimana kita mengetahui perasaan seseorang yang kita sayang, kalau cinta itu tidak tumbuh dari hati? Kalau cinta tidak pakai hati itu, hasilnya ya hanya sekedar MAIN-MAIN saja. Bisa dibilang sekedar merantau, berkelana, mencari-cari sambil sedikit dicoba, dibohongi, atau bahkan dirusak.

Dan bagaimana dengan insting? Sebaiknya hal ini juga perlu dianggap penting, karena dengan insting semuanya bisa terjadi diluar dugaan. Yang kita perkirakan akan hanya terjadi apa adanya, bisa saja terjadi karena ada apanya. Maksudnya, kalau cinta saja bisa mengerti hati, maka insting pun bisa mengerti cinta untuk lebih memahami inginnya dicintai dengan cara mencintai.

Lalu, bagaimana dengan akal? Akal itu bukan suatu kecurangan untuk memanipulasi perasaan, tapi keuntungan untuk mengatasi besarnya kesalahan menjadi sebuah alasan yang bernilai pasti. Dengan akal, akan terbesit banyak ide untuk bisa mewujudkan hal-hal yang membahagiakan dan memperkecil kemungkinan rasa sakit/kecewa. Dan dengan akal juga, bisa memperbesar kekuatan psikis/kejiwaan kita ketika cinta dihadapkan pada suatu dusta dan khianat/ingkar.

Cinta, cinta dan cinta saja yang tersirat. Apakah disamping itu kita memikirkan masa depan? Apa yang dimaksud masa depan? Cita-citakah? Atau hanya sekedar kadar awang-awang kita untuk mengkhayal?
Mungkin cinta yang membuat semuanya tersisih dan tersingkirkan sejenak, tapi apa cita-cita pantas ditinggalkan? Saat cinta menggebu-gebu datang mengguncang hati dan menguras pikiran, saat itu juga perlu ada kontrol pada diri supaya tidak salah melangkah dan menyesal pada akhirnya. Mungkin beberapa orang berpikir lebih baik mengejar cita-cita lalu cinta akan menghampiri, tapi mungkin saja beberapa orang berpikiran dengan memiliki cinta maka cita-cita akan mudah tercapai. Kehidupan ini dilakukan dengan cara 2 hal, yakni OBSESI dan CINTA. Obsesi hanya sekedar sensasi pembuktian jiwa yang keras, kuat dan egois. Bukan karena siapa-siapa, melainkan keinginannya untuk fokus pada satu tujuan. Berbeda dengan Cinta, jika semuanya dilakukan dengan cinta mungkin didalamnya akan terdapat pelajaran ikhlas, menerima dan senang hati. Karena semuanya terdorong oleh keinginan untuk memberikan yang terbaik. Bukan karena tuntutan ego, tanpa mau mendengar dan mengerti orang lain yang menyayanginya.
Mungkin cinta bisa dianggap sepele, padahal dibutuhkan. Dan cita-cita dianggap rumit, jika ada cinta.

Jawabannya simple saja. Saat cinta ditunjukan dengan perasaan yang tulus, maka balasan dari hal itu ialah perasaan cinta yang tulus juga. Dan saat cita-cita dilakukan dengan sebuah perasaan cinta, maka cita-cita itu akan mencintai kita dan menghampiri untuk mudah digapai. Karena hati melakukan segalanya atas cinta, dan cita-cita didapatkan karena dikejar dengan kemauan hati yang terdorong atas cinta pula. Karena cinta itu tidak menyesatkan, melainkan suatu jalan untuk bisa mewujudkan pada arti cita-cita yang sebenarnya.
Dibutuhkan untuk bisa pahami arti Cinta dan mau mengerti bagaimana Cinta dalam sebuah Cita-cita.

No comments:

Post a Comment