Hanya saja aku makhluk lemah yang tidak tahu harus bagaimana mengatur
perasaan yang ada. Kadang aku bisa benar-benar merasakan kesenangan itu
apa, tapi terkadang juga aku bisa rasakan bagaimana kesedihan dan
kesakitan yang bisa menghampiri kapan saja. Dari situ aku belajar,
dengan berpikir mungkin semuanya lebih enteng dibandingkan harus dicerna
oleh perasaan.
Cinta? Apa cinta? Setiap orang bisa memiliki perasaan ini, tapi
tidak semua orang bisa mengerti bagaimana cara mereka membagi porsi
didalamnya. Cinta itu terbagi atas 3 hal yakni hati, insting dan akal.
Bagaimana kita mengetahui perasaan seseorang yang kita sayang, kalau
cinta itu tidak tumbuh dari hati? Kalau cinta tidak pakai hati itu,
hasilnya ya hanya sekedar MAIN-MAIN saja. Bisa dibilang sekedar
merantau, berkelana, mencari-cari sambil sedikit dicoba, dibohongi, atau
bahkan dirusak.
Dan bagaimana dengan insting? Sebaiknya hal ini juga perlu dianggap
penting, karena dengan insting semuanya bisa terjadi diluar dugaan. Yang
kita perkirakan akan hanya terjadi apa adanya, bisa saja terjadi karena
ada apanya. Maksudnya, kalau cinta saja bisa mengerti hati, maka
insting pun bisa mengerti cinta untuk lebih memahami inginnya dicintai
dengan cara mencintai.
Lalu, bagaimana dengan akal? Akal itu bukan suatu kecurangan untuk
memanipulasi perasaan, tapi keuntungan untuk mengatasi besarnya
kesalahan menjadi sebuah alasan yang bernilai pasti. Dengan akal, akan
terbesit banyak ide untuk bisa mewujudkan hal-hal yang membahagiakan dan
memperkecil kemungkinan rasa sakit/kecewa. Dan dengan akal juga, bisa
memperbesar kekuatan psikis/kejiwaan kita ketika cinta dihadapkan pada
suatu dusta dan khianat/ingkar.
Cinta, cinta dan cinta saja yang tersirat. Apakah disamping itu kita
memikirkan masa depan? Apa yang dimaksud masa depan? Cita-citakah? Atau
hanya sekedar kadar awang-awang kita untuk mengkhayal?
Mungkin cinta yang membuat semuanya tersisih dan tersingkirkan
sejenak, tapi apa cita-cita pantas ditinggalkan? Saat cinta
menggebu-gebu datang mengguncang hati dan menguras pikiran, saat itu
juga perlu ada kontrol pada diri supaya tidak salah melangkah dan
menyesal pada akhirnya. Mungkin beberapa orang berpikir lebih baik
mengejar cita-cita lalu cinta akan menghampiri, tapi mungkin saja
beberapa orang berpikiran dengan memiliki cinta maka cita-cita akan
mudah tercapai. Kehidupan ini dilakukan dengan cara 2 hal, yakni OBSESI
dan CINTA. Obsesi hanya sekedar sensasi pembuktian jiwa yang keras, kuat
dan egois. Bukan karena siapa-siapa, melainkan keinginannya untuk fokus
pada satu tujuan. Berbeda dengan Cinta, jika semuanya dilakukan dengan
cinta mungkin didalamnya akan terdapat pelajaran ikhlas, menerima dan
senang hati. Karena semuanya terdorong oleh keinginan untuk memberikan
yang terbaik. Bukan karena tuntutan ego, tanpa mau mendengar dan
mengerti orang lain yang menyayanginya.
Mungkin cinta bisa dianggap sepele, padahal dibutuhkan. Dan cita-cita dianggap rumit, jika ada cinta.
Jawabannya simple saja. Saat cinta ditunjukan dengan perasaan yang
tulus, maka balasan dari hal itu ialah perasaan cinta yang tulus juga.
Dan saat cita-cita dilakukan dengan sebuah perasaan cinta, maka
cita-cita itu akan mencintai kita dan menghampiri untuk mudah digapai.
Karena hati melakukan segalanya atas cinta, dan cita-cita didapatkan
karena dikejar dengan kemauan hati yang terdorong atas cinta pula.
Karena cinta itu tidak menyesatkan, melainkan suatu jalan untuk bisa
mewujudkan pada arti cita-cita yang sebenarnya.
Dibutuhkan untuk bisa pahami arti Cinta dan mau mengerti bagaimana Cinta dalam sebuah Cita-cita.
No comments:
Post a Comment